Salam yang Terlewat manalagi yang disebut manis jika gula sudah tercuri semut manalgikah yang dinamakan asin jika air laut telah tertarik menjadi awan aku menjadi abu berhias lilin mengundang lalu kau mengenang lalu yang mengguru
Dunia Diatas Kertas Karya: Khoirunnisa Tri Utami Memandang jamuan keikhlasan bertahta surga Bermesraan kala hujan tengah bercerita Bermain bayang-bayang bermata pisau tua Akhirnya tertidur hingga tak bertanya Di sudut sekolah kerikil berirama tanpa syarat Memakan tangisan-tangisan sang awan Meminum puluhan asam perkaratan Hingga kutemukan dua merpati bersanding di pucuk pinus Belajar, menerka, dan menangisi kabut tipis Menahan tinggi air melampaui lautan semu Mengkaji butiran-butiran embun fajar Dalam kata, kuucap mimpi dalam sebait puisi
DALAM SUJUDKU Khoirunnisa Tri Utami Keheningan memancar laksana sebuah alunan tak berdentang Mengikis detik-detik panah zaman Menggerogoti perisai penyiksaan Melawan permata kegaduhan Kini tiba saatnya Dari serigala-serigala yang sibuk mengais mimpi mereka Merayap menapaki seruan mulia Menapak tangan dalam segenggam kenikmatan Dalam sujudku Berharap kasturi hinggap dalam sarat jiwa Memangsai derita tanpa dosa Bersimpuh lembar-lembar laknat dunia Dalam sujudku Berjuta untaian kata kata manis jiwa berteriak Untuk ribuan pemangsa hidup tak berarti Dan hidupku sebagai dupa tanpa api
Komentar
Posting Komentar